Minggu, 06 Oktober 2013

Seni Mencintai



Judul Buku : The Art of Loving
Penulis : Erich Fromm
Penerbit : Fresh Book
Tahun Terbit : Januari 2005
Tebal : 218 Halaman



Apakah cinta itu seni? Ataukah hanya sebentuk perasaan menyenangkan yang dialami secara kebetulan saja, sesuatu yang membuat kita tercebur ke dalamnya jika sedang beruntung??



Cinta adalah sebuah seni, yang harus dimengerti dan diperjuangkan… Dalam masalah cinta, kebanyakan orang pertama-tama melihatnya sebagai persoalan ‘dicintai’ ketimbang ‘mencintai’ atau kemampuan mencintai. Hal kedua yang mendasari sikap aneh masyarakat sekarang dalam soal cinta adalah anggapan bahwa cinta adalah persoalan ‘obyek’ bukan persoalan ‘kemampuan’.



Frasa itulah yang muncul diawal buku The Art of Loving. The Art of Loving adalah sebuah buku yang membahas tentang cinta, teori, obyek dan aplikasi. Di antara banyak referensi tentang cinta, buku karangan Erich Fromm ini lebih sering menjadi referensi utama psikologi ketika ingin membahas tema tentang cinta. Erich Fromm adalah seorang Psikoanalis yang banyak menaruh perhatian pada karakter sosial masyarakat modern. Erich Fromm adalah warga Jerman yang mempelajari psikologi, filsafat, dan sosiologi. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh psikoanalisis bersama Freud. Yang membedakan di antara keduanya adalah Erich Fromm menekankan kepada peran sosio-ekonomi dalam pembentukan kecenderungan-kecenderungan yang membangun karakteristik kepribadian seorang individu. Tak dapat dipungkiri bahwa tulisan dan pemikiran Erich Fromm dipengaruhi oleh seorang ideolog yang memberikan ‘antitesis’ terhadap wajah Barat, yaitu Karl Marx.

Orang-orang memberdayakan diri mereka, memproduktifkan diri mereka untuk memperoleh jabatan dan kekayaan material, supaya mereka dicintai. Inilah salah satu ‘penyakit’ yang sedang menjadi virus tanpa wujud, ketika orang-orang tergila-gila untuk dicintai, dan lupa bagaimana mencintai seseorang. Padahal mencintai akan memberikan kita suatu ‘keuntungan’ yang bukan hanya bersifat material sesaat, tapi juga memberikan ‘keuntungan’ terhadap jiwa kita. Tindakan mencintai bukan hanya dilakukan dengan melakukan sesuatu atau menggerakkan tubuh untuk melakukan sesuatu. Bukan demikian. Justru, tindakan yang merupakan kegiatan tertinggi adalah kontemplasi menuju yang transedental.

Ada salah satu dasar bagi Fromm dalam memandang cinta. Bagi Fromm, seluruh cinta yang ada di alam semesta merupakan representasi cinta Tuhan dan menjadi ‘wujud’ cinta terhadap Tuhan. Fromm menyatakan bahwa cinta tak akan mengerdilkan diri kita, pasangan kita, atau siapapun yang ada di sekitar kita. Cara kita mencintai justru diupayakan untuk mengembangkan seseorang yang kita cintai, menjadi dirinya sendiri, seutuhnya. Inilah pentingnya mencintai berdasakan keberadaan Tuhan. Ketika kita dan seseorang yang kita cintai menyadari bahwa diri masing-masing merupakan bagian dari ciptaan Tuhan; keduanya pun akan menyadari sepenuhnya bahwa diri masing-masing adalah satu walaupun nyatanya tetap ada dua, sebagai representasi keutuhan diri. Menurutnya, setiap teori tentang cinta harus dimulai dengan teori tentang manusia, tentang eksistensi manusia. Dan salah satu eskistensi tersebut adalah bahwa manusia mempunyai kehidupan yang sadar akan dirinya.

Manusia memiliki kesadaran akan dirinya, akan diri sesamanya, akan masa silam, serta kemungkinan-kemungkinan masa depannya. Manusia juga mempunyai kesadaran akan jangka hidupnya yang pendek, akan fakta bahwa ia dilahirkan diluar kemauannya dan akan mati diluar keinginannya. Juga kesadaran bahwa dia akan mati mendahului orang-orang yang dicintai atau mereka yang dia cintailah yang akan mendahuluinya. Erich Fromm menjabarkan obyek-obyek cinta yang berbeda yang ada pada manusia, yaitu: Cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotik, cinta diri dan cinta Tuhan. Cinta persaudaraan berbeda dengan cinta keibuan, begitu juga berbeda dengan cinta erotik, diri atau Tuhan.

Sebuah karya penting yang menunjukkan kepada Anda bagaimana menumbuh kembangkan hubungan kasih sayang Anda dan memperkaya hidup Anda.The Art of Loving telah membantu ratusan ribu pria dan wanita mencapai kehidupan yang bermakna dan produktif dengan mengembangkan kapasitas mereka yang tersembunyi untuk cinta. Sebuah buku yang sangat menggemparkan dan tak memihak oleh seorang psikoanalis terkenal Erich Fromm, yang mengupas tuntas cara-cara di mana emosi yang sangat luar biasa itu dapat mengubah arah kehidupan seseorang.Kebanyakan dari kita tidak dapat mengembangkan kemampuan kita untuk mencintai pada satu-satunya tataran yang benar-benar bermakna - sebuah cinta yang penuh dengan kedewasaaan, pemahaman diri, dan keberanian. Belajar mencintai memerlukan latihan dan konsentrasi. Lebih dari seni apa pun, belajar mencintai membutuhkan wawasan dan pengetahuan tulus. Fromm mengupas soal cinta dalam semua aspeknya: bukan hanya cinta romantis, yang begitu terselubung oleh konsepsi-konsepsi palsu, tetapi juga cinta orangtua terhadap anaknya, cinta kepada saudara, cinta erotis, dan cinta kepada Tuhan.



*Cinta merupakan seni



Premis yang pertama, yakni bahwa cinta adalah sebuah seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan. premis kedua adalah kecenderungan sikap yang diidap oleh masyarakat zaman sekarang sama sekali bukan mereka menganggap remeh soal cinta. justru kenyataan yang terjadi adalah sekarang selalu haus akan cinta. Persoalan terpenting bagi kebanyakan orang adalah bagaimana agar dicintai, atau bagaimana agar bisa dicapai. tindakan yang ditempuh oleh kaum lelaki adalah bagaimana agar sukses, kaya, berkuasa, dengan tanpa melanggar batas-batas sosial yang ada. ditempuh oleh kaum perempuan adalah dengan membuat semenarik mungkin, dengan cara merawat tubuh, pakaian dan penampilan. Langkah pertama yang harus diambil dalam hal menghentikan cinta-mencintai adalah dengan menyadari bahwa cinta adalah suatu seni; sama seperti hidup. proses mempelajari seni dapat dibagi menjadi 2 bagian; menguasai teori dan menguasai prakteknya.



* Teori Cinta



Hanya ada satu kepastian, yaitu kepastian tentang masa lampau, sedangkan tentang masa depan, yang ada hanyalah kepastian tentang kematian. Manusia terlepas di zaman dan kebudayaan tempat ia hidup telah dihadapkan pada pertanyaan yang sama, yaitu bagaimana cara mengatasi keterpisahan, meraih kesatuan, mentransendensikan kehidupan serta memperoleh penebusan. Menurut filsafat abad pencerahan (Emmanuel Kant), tak seorang pun manusia yang lebih dijadikan alat bagi tujuan manusia lainnya. Semua manusia adalah sama. Manusia adalah tujuan, dan sampai kapan pun ia tetap tujuan. Manusia tak lebih menjadi alat bagi yang lainnya.

Cinta yang matang adalah kesatuan dengan sesuatu atau seseorang dibawah kondisi saling tetap mempertahankan integritas. Cinta adalah kekuatan aktif yang bersemayam dalam diri manusia. Cinta selalu memuat elemen-elemen dasar tertentu, yakni perhatian, tanggung jawab, penghargaan serta pemahan. Bukti bahwa cinta memuat perhatian (care) nampak jelas dalam cinta seorang ibu terhadap anaknya. Perhatian dan kepedulian memuat aspek lain dari cinta, yaitu tanggung jawab. Tanggung jawab bisa dengan mudah berubah menjadi dominasi dan kepemilikan jika tidak sesuai komponen ketiga, yaitu penghormatan atau penghargaan. Tanggung jawab akan buta jika tidak dituntun oleh pemahaman atau pengetahuan.



* Cinta dan disintagrasinya dalam masyarakat.



Cinta adalah sebentuk kapasitas yang terakhir yang terlahir dari karakter yang matang dan produktif. Kedudukan dari cinta yang tersebut telah digantikan oleh sederetan cinta semu yang mencermikan terjadinya disintegrasi cinta dalam kehidupan masyarakat kontemporer.



* Praktek cinta



Setelah membicarakan aspek teorirk dari seni mencintai, sekarang kita dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih sulit, yaitu praktek seni mencintai. Mempelajari praktek seni tidak akan mungkin tanpa melatihnya secara langsung. Mencintai adalah pengalaman personal yang hanya dapat dimiliki oleh dan untuk orang yang bersangkutan. Praktek suatu seni memiliki syarat-syarat umum tertentu, yaitu kedisiplinan, mood, kesabaran, serta perhatian penuh untuk menguasai seni tersebut. Cinta adalah suatu tindakan yang disertai keyakinan dan kepercayaan, dan orang yang hanya memiliki sedikit keyakinan akan sedikit pula cintanya. Dasar pokok dari praktek seni mencintai, yaitu aktivitas. Oleh karenanya keyakinan bahwa cinta bisa terwujud sebagai fenomena sosial dan bukan sekedar fenomena individual merupakan keyakinan yang rasional, yang bersumber pada wawasan tentang hakekat manusia itu sendiri.

Inilah yang menarik dari pembahasan psikologi tentang cinta oleh Erich Fromm. Ia tidak memukul rata pemahaman tentang cinta, tetapi mengkalisifikasikannya berdasarkan obyek yang mana mempunyai arti berbeda pada masing-masing obyek. Cinta persaudaraan adalah cinta pada sesama manusia, cinta keibuan adalah cinta ibu pada anaknya, cinta diri adalah cinta pada diri sendiri; dan sebagainya. Sementara elemen-elemen cinta menurut Fromm adalah yakni perhatian, tanggungjawab, penghargaan serta pemahaman.



Buku The Art of Loving karya Erich Fromm ini bagaikan suatu ‘oase di gurun pasir’ akan tergesernya nilai cinta di zaman ini; zaman yang begitu menggemborkan peranan cinta sebagai perasaan pasif, peranan cinta yang ingin dipuja-puji oleh sesama manusia, peranan cinta yang melupakan makna mencintai. Bahkan Fromm pun menyatakan bahwa yang patut dipuja hanyalah Tuhan yang memiliki seluruh alam semesta. Perasaan yang muncul dan kegiatan dalam mencintai adalah bentuk kebahagiaan cinta seutuhnya yang mestilah transedental. Dalam buku 218 halaman ini, Fromm juga mengutip pendapat tokoh-tokoh besar tentang cinta, seperti Karl Marx, Jalaludin Rumi, Sigmund Freud dan Spinoza. Tetapi selain mengutip pendapatnya tentu Fromm juga mengutarakan kritiknya atas pendapat tokoh-tokoh tersebut yang menurutnya kurang tepat. Menurut Karl Marx cinta adalah kekuatan yang menghasilkan cinta, dan impotensi adalah ketidakmampuan untuk menghasilkan cinta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar