Rabu, 17 April 2013

AKU JENGAH !!!




“Kamu boleh tidak memikirkan politik. Tapi, politik selalu memikirkanmu,” Aung San Suu Kyi.
Salah satu agenda reformasi politik Indonesia saat ini adalah terciptanya demokrasi dan keterbukaan informasi bagi masyarakat. Ada dua pertanyaan yang dapat diajukan. Pertama, kalau politik dijalankan dengan cara Orde Baru tanpa oposisi yang dilembagakan, dapatkah dijamin bahwa kesalahan-kesalahan Orde Baru berupa KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), tidak terulang lagi? Kedua, apakah kekuasaan di Indonesia demikian khusus sifatnya sehingga tidak diperlukan suatu oposisi yang secara resmi dan terus-menerus melakukan pengawasan terhadap penggunaan kekuasaan?
Pertanyaan kedua di atas berhubungan dengan soal apakah kekuasaan itu mempunyai kecenderungan yang sama di mana-mana atau apakah ada kekhasan budaya yang menyebabkan kekuasaan berbeda wataknya dari suatu negara ke negara lainnya. Pertanyaan ini dapat dijawab secara umum bahwa penguasa dengan kekuasaan besar di tangannya perlu diawasi karena kecenderungan penguasa untuk memperluas kekuasaannya serta menyelewengkan penggunaan kekuasaan adalah berkali-kali lebih besar dari kemampuannya untuk mengawasi dirinya. Perbedaan budaya hanya terlihat dalam caranya suatu penyelewengan dilakukan, sedangkan kecenderungan kepada penyelewengan adalah sama di mana-mana. Ini psikologi kekuasaan yang sudah konstan dalam sejarah sehingga tidak perlu dibuktikan lagi.
Pertanyaan pertama berhubungan dengan cara bagaimana penguasa memandang kekuasaannya. Kekeliruan Orde Baru misalnya adalah menganggap bahwa pembatasan politik dapat dijalankan oleh penguasa sampai saatnya penguasa sendiri merasa pembatasan itu dapat dilonggarkan lagi berdasarkan pertimbangan penguasa sendiri. Pemegang kekuasaan dianggap demikian bijaksana sehingga atas inisiatif dan kehendak sendiri dia akan memberikan kembali kebebasan dan keterbukaan politik bilamana hal itu dianggapnya tepat dan perlu. Bagaimana mantan Presiden Soeharto melansir isu keterbukaan dan kemudian dengan sigap dan dalam waktu singkat memangkasnya kembali, masih segar dalam ingatan kita semua.
Setiap penguasa jelas akan berbicara tentang kepentingan rakyat, kepentingan bangsa dan negara sebagai suatu keharusan retorika dan kampanye politik, tetapi para warga sebaiknya awas bahwa kepentingan pertama penguasa adalah mempertahankan, memperbesar dan memperkuat kekuasaan yang sudah dipunyainya. Orang tidak perlu membaca Machiavelli untuk memahami hal ini, karena pengalaman langsung akan selalu membuktikannya. Karena itu sejauh mana kekuasaan itu dipergunakan untuk sebesar-besar kepentingan rakyat jelas tidak dapat dipercayakan begitu saja kepada penguasa tetapi kepada pihak-pihak yang bertugas dan berwajib mengawasi kekuasaan. Ini realisme politik elementer, yang kalau diabaikan, akan membawa kita langsung kembali ke situasi politik ala Orde Baru.
NAMUN demikian, oposisi rupanya dibutuhkan bukan hanya untuk mengawasi kekuasaan. Oposisi diperlukan juga karena apa yang baik dan benar dalam politik haruslah diperjuangkan melalui kontes politik dan diuji dalam wacana politik yang terbuka dan publik. Adalah naif sekali sekarang ini untuk masih percaya bahwa pemerintah bersama semua pembantu dan penasihatnya dapat merumuskan sendiri apa yang perlu dan tepat untuk segera dilakukan dalam politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan kebudayaan pada saat ini.
Di sanalah oposisi dibutuhkan sebagai semacam devil's advocate yang memainkan peranan setan yang menyelamatkan kita justru dengan mengganggu kita terus-menerus. Dalam peran tersebut oposisi berkewajiban mengemukakan titik-titik lemah dari suatu kebijaksanaan, sehingga apabila kebijaksanaan itu diterapkan, segala hal yang dapat merupakan efek sampingan yang merugikan sudah lebih dahulu ditekan sampai minimal. Tragedi-komedi dalam politik Orde Baru adalah bahwa oposisi hanya dipandang sebagai devil (setan) dan tidak pernah diakui sebagai advocate (pembela).
Manfaat lainnya adalah bahwa dengan kehadiran oposisi masalah accountability atau pertanggungjawaban akan lebih diperhatikan pemerintah. Tidak segala sesuatu akan diterima begitu saja, seakan-akan dengan sendirinya jelas, atau beres dalam pelaksanaannya. Kehadiran oposisi membuat pemerintah harus selalu menerangkan dan mempertanggungjawabkan mengapa suatu kebijaksanaan diambil, apa dasarnya, apa pula tujuan dan urgensinya, dan dengan cara bagaimana kebijaksanaan itu akan diterapkan.
Socrates, filsuf Yunani kuno yang konon suka mengajar filsafat dari pasar ke pasar pernah mengemukakan tiga kriteria untuk menguji perlu-tidaknya sebuah tindakan. Pertanyaan pertama: apakah sebuah tindakan adalah benar dan dapat dibenarkan? Kalau tindakan itu terbukti benar, maka menyusul pertanyaan kedua: apakah tindakan yang benar tersebut perlu dilakukan atau tidak perlu dilakukan? Kalau tindakan itu ternyata benar dan perlu, maka pertanyaan ketiga adalah: apakah hal tersebut baik atau tidak untuk dilaksanakan?
Korupsi misalnya mutlak tak dapat dibenarkan, dan jelas tidak baik, sekalipun mungkin perlu (misalnya karena harus menolong sanak keluarga yang sedang menderita sakit payah dan memerlukan ongkos besar untuk perawatan di rumah sakit). Seterusnya mengangkat saudara sendiri untuk jabatan-jabatan dalam birokrasi mungkin dapat dibenarkan (kalau sanak saudara itu terbukti kompeten untuk kedudukan bersangkutan) tetapi tidak perlu (karena akan mengurangi integritas dari orang yang mengangkat sanak-saudaranya sendiri). Demikian pun bekerja sama dalam birokrasi dan jabatan politik dengan seorang pengusaha untuk menambah dana birokrasi, mungkin dapat dibenarkan dan dibuktikan keperluannya, tetapi jelas tidak baik, karena akan menimbulkan konflik kepentingan pada pejabat bersangkutan dan mengurangi independensinya dalam berhadapan dengan orang luar.
Oposisi tidak saja bertugas memperingatkan pemerintah terhadap kemungkinan salah-kebijaksanaan atau salah-tindakan tetapi juga menunjukkan apa yang harus dilakukannya tetapi justru tidak dilakukannya. Adalah kewajiban oposisi untuk melakukan kualifikasi apakah sesuatu harus dilakukan, atau tidak harus dilakukan, atau malahan harus tidak dilakukan sama sekali. Perlu tidaknya oposisi sangat tergantung kepada pandangan dan persepsi tentang kekuasaan. Kalau kekuasaan dianggap berasal dari sumber supernatural, berupa pulung, wangsit dan semacamnya maka oposisi tidak dibutuhkan, karena penguasa hanya merasa bertanggung jawab terhadap pihak yang telah memberinya pulung dan wangsit tersebut. Demikian pun masalah legitimasi kekuasaan menjadi tidak relevan, karena hubungan kekuasaan dan wangsitnya berlangsung dalam suatu lingkaran logika-tertutup.
Dalam suatu logika-tertutup seperti itu tidak pernah bisa diketahui apa membuktikan apa. Kalau kita bertanya: apa buktinya bahwa seseorang mendapat wangsit, maka jawabannya: karena orang itu terbukti berkuasa (tanpa wangsit dia tidak mungkin berkuasa). Sebaliknya kalau ditanyakan: mengapa si Anu kok bisa menjadi presiden, maka jawabannya: karena dia memang mendapat wangsit. Dengan demikian, adanya kekuasaan dibuktikan oleh adanya wangsit, dan adanya wangsit dibuktikan oleh adanya kekuasaan. Dengan demikian, langkah pertama untuk memperlakukan kekuasaan secara demokratis, adalah mengadakan desakralisasi kekuasaan. Kekuasaan tidak berasal dari sumber-sumber yang gaib, mistik dan magis, tetapi berasal dari rakyat. Adalah rakyat yang memberikan kekuasaan dan rakyat jugalah yang memungkinkan sebuah kekuasaan dijalankan melalui ketundukannya kepada kekuasaan tersebut.
Kalau kekuasaan berasal dari rakyat, dan kalau rakyat kemudian tunduk kepada penguasa yang telah menerima kekuasaan dari mereka, maka adalah kewajiban penguasa untuk membuktikan bahwa dia layak mendapat kepercayaan rakyatnya, dan bahwa ketundukan rakyat kepada kekuasaannya mempunyai alasan-alasan yang dapat dibenarkan. Legitimasi adalah kelayakan sebuah orde politik untuk mendapatkan pengakuan dari rakyatnya, suatu Anerkennungswuerdigkeit einer politischen Ordnung, begitu kata seorang ahli filsafat politik, Juergen Habermas. Kedua, kekuasaan mempunyai tendensi bukan saja untuk memperbesar dan memperkuat dirinya tetapi juga memusatkan dirinya. Karena itulah pemikiran demokratis tentang kekuasaan selalu menekankan pembagian kekuasaan dan keseimbangan kekuasaan. Pengalaman dalam Orde Baru menunjukkan bahwa pemusatan kekuasaan ini telah berjalan dengan amat ekstrem, baik dalam bidang politik dengan demikian besarnya kekuasaan Presiden Soeharto pada waktu itu, maupun dalam bidang ekonomi dalam bentuk berbagai praktek monopoli dan oligopoli.
Pemusatan kekuasaan politik ini amat ditunjang oleh gambaran bahwa penguasa adalah seorang bapak keluarga yang baik hati yang akan berbuat segala sesuatu untuk kepentingan anak-anaknya. Anak-anak selayaknya mempercayakan segala urusan kepada bapak mereka, dan etos politik yang berlaku adalah "terserah Bapak". Analogi ini jelas keliru dengan akibat yang amat pahit. Penguasa adalah penguasa dan bapak keluarga adalah bapak keluarga. Keluarga adalah lingkungan personal yang termasuk dalam private sphere, tetapi kekuasaan pemerintah semata-mata bersifat fungsional dan termasuk dalam public sphere.
Dengan demikian langkah kedua untuk memperlakukan kekuasaan secara demokratis adalah depaternalisasi kekuasaan. Penguasa jangan lagi dipandang secara paternalistis seakan-akan mempunyai watak kebapakan, tetapi harus dipandang secara lugas sebagai seorang yang mempunyai potensi menyalahgunakan kekuasaan yang kalau tidak diawasi dapat berkembang sampai tingkat sewenang-wenang. Persoalan tentang bagaimana oposisi dapat dijalankan dengan efektif tanpa terlalu banyak menimbulkan keguncangan politik, haruslah dibahas sebagai suatu uraian tersendiri, dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan riil yang ada dalam politik Indonesia saat ini. Yang perlu ditekankan dalam tulisan ini ialah bahwa oposisi dibutuhkan pertama-tama sebagai kritik kepada kekuasaan dan pengawasan terhadap kekuasaan agar tidak semena-mena.
Sudah jelas bahwa adanya partai oposisi merupakan sebuah jalan formal untuk menjalankan peran tersebut. Namun demikian, oposisi dan kritik kepada kekuasaan tidaklah perlu diidentikkan seluruhnya dengan kegiatan sebuah atau beberapa buah partai. Oposisi dan kritik kepada kekuasaan pertama-tama adalah sebuah fungsi dan aktivitas politik yang dapat dijalankan di dalam maupun di luar partai politik. Kalau pers bisa memainkan peranannya dengan lebih leluasa tanpa pengekangan oleh kekuasaan, maka pers dan media elektronik dapat menyumbang banyak kepada kontrol terhadap kekuasaan. Demikian pun kelompok-kelompok kritis seperti kalangan LSM, atau organisasi-organisasi profesional, dan terutama sekali para mahasiswa dan kalangan kampus umumnya, dapat menyumbang kepada kontrol sosial dan kritik terhadap penggunaan kekuasaan, berdasarkan keahlian dan pengalaman mereka dalam bidang yang digelutinya. Penolakan para aktivis Pendidikan terhadap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam membuat kurikulum 2013 adalah contohnya.
Demikian pun kontrol terhadap kekuasaan dapat dijalankan melalui pembentukan pendapat umum, sehingga pendapat ini bisa menekan suatu pendirian atau pendapat pemerintah yang tidak disetujui. Contoh yang sempurna tentang ini adalah isu KKN sendiri yang dibentuk di jalanan oleh para mahasiswa dan kemudian disambut dengan antusias oleh seluruh masyarakat politik di Indonesia, dan kemudian berkembang menjadi pendapat umum yang sanggup memaksa berakhirnya rezim Orde Baru, suatu orde politik yang dalam pendapat umum yang sebelumnya (sebelum lahirnya KKN) selalu dibayangkan sebagai tak tergoyahkan.
Namun, membela oposisi tidak dengan sendirinya berarti mengandaikan bahwa oposisi yang dijalankan dengan sendirinya akan selalu tinggi mutunya. Politik di Jerman dari pertengahan tahun 1980-an sampai 1990-an dianggap merosot mutunya, karena tidak adanya oposisi yang bermutu dari Partai Sosial Demokrat (SPD) di sana. Dengan demikian, kekurangan-kekurangan dalam politik Helmut Kohl buat sebahagian besar dipersalahkan bukan saja kepada rezim Helmut Kohl tetapi juga kepada oposisi politik yang lemah dan tidak efektif. Ini berarti kritik politik berlaku juga terhadap oposisi dan dia sendiri harus dikritik terus-menerus untuk menjalankan peranannya bukan demi kepuasan perlawanan semata-mata, tetapi demi suatu politik di mana kekuasaan digunakan dengan cara yang terawasi. Dalam hal ini berlaku prinsip: musuh yang pintar akan lebih menolong daripada teman yang bodoh, dan lawan yang jujur lebih bermanfaat daripada kawan yang culas.

Selasa, 09 April 2013

Tak Mau Digusur, Pedagang Blokade Stasiun Kalideres



Dari tak ada surat penggusuran dan aparat yang represif
Pedagang adu dorong dengan polisi, Selasa (9/4)
 
Selasa (9/4), Ratusan pedagang yang berjualan di belakang Stasiun Kalideres, berdemonstrasi menolak penggusuran. Mereka mayoritas berjualan sayur meminta agar  dipertemukan dengan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI)."Saya mau bicara sama kepaka stasiun. Kami cuma berjualan dan tidak pernah menganggu aktifitas kereta ," Ucap Sadiah, salah satu  pedagang ikan. Ia menjelaskan, polisi datang pukul 09.30. Satu jam kemudian polisi pamong praja (pol PP) menghancurkan kios-kios pedagang dari bagian atas, padahal masih ada transaksi jual beli. Akibatnya, satu orang pedagang menjadi korban reruntuhan asbes yang menutupi kiosnya. “Ibu lagi ngelayanin pembeli, tiba – tiba langsung runtuh asbes, untung cuma kena kaki,” tutur Evi kepada didaktika.
Tak terima dengan kejadian ini, para pedagang melakukan demonstrasi persis di tengah rel, akibatnya mengganggu perjalanan kereta dari stasiun Tangerang menuju stasiun Duri begitu juga sebaliknya. Demontrasi yang dilakukan oleh serikat pedagang stasiun jakarta bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta serta Bem UI. Aksi ini juga dijaga sekitar tiga kompi Polis dari Polsek Kalideres dan satu kompi Marinir.  Kapolsek Kalideres Danu Wiyata menyatakan, penertiban pasar di lahan PT KAI, adalah wewenang dari PT KAI. Tugas polisi dan Marinir hanya menjaga keamanan dan ketertiban. "Tugas polisi dan Marini di sini hanya mengamankan jalannya unjuk rasa. Tuntutan pedagang juga akan kami sampaikan ke PT KAI," ujarnya.
Sebelumnya, pedagang yang sudah berjualan hampir 20 tahun, menolak untuk ditertibkan. Toto, salah  satu pedagang mengatakan, “Tidak ada sosialisasi mengenai penggusuran. Pun, kalo ada itu sangat mendadak dan tiga hari setelah surat diterima kita harus pindah.” Namun, pembongkaran tersebut mendapat perlawanan dari warga dengan melempari batu ke arah polisi. Menurut kesaksian seorang pengunjuk rasa, pelemparan batu tersebut sempat bisa diredakan petugas sekitar pukul 12.00 WIB.  Menurut Kepala Stasiun Kalideres, Ari mengatakan penertiban ini dilakukan untuk memperluas areal stasiun agar bisa menampung sekitar ratusan penumpang. Dan kegiatan ini sudah disosialisasikan dengan para pemilik kios PKL."Jadi kalau ada yang ngomong belum dikasih tahu, itu gak mungkin karena kita sudah sosialisasikan," ujar Ari.
Ari menjelaskan, kegiatan ini dilakukan juga karena kontrak antara PKL dengan pihak PT KAI juga sudah habis sejak tahun 2008." Jadi kalau mereka bilang sudah diperpanjang sampai 2016 itu bukan dengan kita," tuturnya. Sore hari menjelang, demo pedagang di kawasan Stasiun Kalideres yang menutup jalur kereta makin memanas. Pedagang yang dibantu mahasiswa ingin tetap bertahan dan melawan dengan perang batu saat dibubarkan polisi. Sebelumnya Kapolsek Kalideres Danu Wiyata berulang kali mengimbau warga membubarkan diri dengan tertib. "Demo sampai pukul 17.15. Kalau tidak mau mundur, tangkap saja. Jangan dipukul," katanya.
Namun, peringatan ini tidak diindahkan oleh mahasiswa dan pedagang. "Kita jangan mau menuruti polisi. Kita di sini bukan pendemo, kita memperjuangkan hak kita," kata Rio koordinator aksi. Akibatnya, empat orang mahasiswa diciduk polisi. Pedagang yang tak terima dengan tindakan tersebut langsung menimpuki aparat kepolisian dengan batu. "Kami dari mahasiswa UI ingin membantu PKL memperjuangkan haknya," kata Rio yang juga Mahasiswa UI Ilmu perpustakaan. Aparat kepolisian kemudian membalas 2 kali tembakan mengantisipasi pendemo yang kian brutal. Akibatnya seorang anak tewas terkena peluru nyasar.

Sabtu, 06 April 2013

Dunianya Sophie


                “Perbuatan yang paling membahagiakan adalah berbuat baik kepada orang lain,” (Maxim Gorky)

Sophie tidak mengetahui siapa pengirim surat – surat nan panjang dan membuatnya tercengang, hanya satu yang ia ketahui bahwa setiap surat itu sampai kepadanya slalu ada bekas gula di pinggiran surat tersebut. Sophie Amundsen, adalah salah satu tokoh dalam Dunia Sophie. Jostein Gaardner seorang penulis Perancis membuat sebuah karya yang cukup mencengangkan. Belum lama ini buku tersebut di cetak ulang. Sebuah novel brilian berisi plajaran filsafat. Hanya ada beberapa tokoh dalam karyanya ini. Dunia Sophie sering disebut – sebut sebagai novel filsafat, karena memang di dalamnya di jabarkan pula deretan tokoh filsafat barat (Eropa) beserta cuplikan pemikirannya. Novel ini di Buka dengan sebuah Pertanyaan. “Siapakah aku?” pertanyaan yang dijukan oleh seorang pengirim surat misterius kepada Sophie.
Menarik, karena pertanyaan ini adalah pertanyaan sederhana. Sepintas nampak sederhana akan tetapi itu merupakan sebuah dasar mengenal kembali siapa sesungguhnya diri kita. Bertanya adalah kunci berfilsafat. Karena dari pertanyaan maka akan muncul sebuah pengetahuan. Beberapa pertanyaan pertanyaan sederhana terus mengalir dalam bab awal novel ini. Sebuah pembelajaran tentang Filsafat sedang dilakukan oleh si pengirim surat. Menurut Gaardner Filsafat berasal dari kata Philo, yang artinya Cinta, dan Sophia yang berarti kebijaksanaan. Filsafat adalah mencintai kebijaksanaan berfilsafat, berarti berusaha menjadi Bijak. Usai muncul pertanyaan siapakah kamu, selanjutnya adalah siapakah manusia? Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti. Dari mana asal dunia?, apakah Bumi?, Siapakah malaikat?Untuk apa Hidup?. Pertanyaan pertanyaan tersebut kemudian berganti kepada penjelasan secara sistematis tentang alur sejarah Filsafat Barat. Mulai dari masa Klasik, sampai Modern. Dalam usianya yang baru 15 tahun ternyata Sophie harus merelakan sebagian besar waktu luangnya.
Mulai dari sepulang sekolah hingga larut malam. Surat – surat tersebut merubah dunianya. Deskripsi yang hidup soal Sophie memunculkan sebuah karakter, seperti tidak bosan – bosannya membaca, dan terus membacai karya Gaarder ini. Sebuah sejarah di tulis dengan cukup menarik dan tidak membosankan. Novel Filsafat Penjelasan awal soal sejarah Filsafat Barat dimulai dari Socrates. Bapak Filsafat. Socrates adalah seorang anak muda yang besar di Athena, yunani. Kenapa Socrates disebut sebagai bapak Filsafat, karena ia adalah Pioner dalam seni berdiskusi dan mempelajari sesuatu. Kata- kata Socrates yang paling terkenal adalah “Satu hal yang aku ketahui adalah aku tidak mengetahui apa – apa dan orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu.” Dari kalimat tersebut kita dapat mengetahui bahwa pemikiran Socrates adalah motor dari berdirinya bangunan pengetahuan. Keingin tahuan muncul dari sebuah pertanyaan. Sokrates pada zamannya adalah pelopor terbentuknya sekolah (Stoik). Metode pendidikannya adalah berdiskusi, dengan tema – tema sindiran. Socrates bukanlah seorang ilmuan melainkan seorang etis. Pekerjaannya adalah berkeliling ke tempat tempat dimana banyak orang berkumpul, kemudian mengajak orang berdiskusi. Orang yang pernah diajak berdiskusi adalah dari kalangan mana saja. Plato seorang murid Socrates pernah mencatat, waktu sang guru berdiskusi dengan seorang pedagang yang ahli matematika.
 Sang ahli matematika akhirnya menjelaskan pengalamannya selama berdiskusi dengan Socrates. “Orang tidak akan merasa di gurui saat berdiskusi dengan Sokrates,” ungkap sang ahli matematika. Tidak banyak yang bisa di bagambarkan dari Sokrates lewat novel dunia Sophie, pun Sokrates memang tidak pernah menuliskan pemikirannya. Plato. “Segala sesuatu di dunia ini berasal dari ide,” ungkap Filsof yang menjadi motor penalaran Deduktif. Plato juga merupakan kaum Sofis. Pada 400 SM, Athena mengalami masa keemasan. Di mana tiap pemudanya tidak harus menghabiskan waktu untuk bekerja, dan para wanita hidup dengan damai tanpa ada rasa risau suaminya tidak kembali dari perang. Zaman keemasan ini di namakan zaman Helenistik. Karya besar Plato yang paling terkenal dan banyak dipakai oleh filsuf – filsuf lainnya baik di zaman modern sampai saat ini adalah Republik. Republik merupakan sebuah bentuk negara. Negara Ideal ciptaan Plato. Menurut Plato pemimpin sebuah negara ideal tersebut adalah Filsuf. Negara menurut plato terbagi ke dalam 3 bagian. Bagian kepala, dada, dan kaki. Tiga bagian ini kemudian di terjemahkan kepada: Raja/ Presiden, alat pengontrol raja (Parlemen), sampai kepada kaki, alat gerak. Yaitu dianalogikan sebagai rakyat yang berada dalam kedaulatan negara. Maju atau mundurnya sebuah negara terletak pada rakyatnya sendiri yang menentukan. Plato menjadi Inspirasi beberapa filsuf modern. Terutama pemikirannya soal politik.
 Beberapa Filsuf tersebut adalah: John Locke, Bekeley, Hume, J. J. Roseau, sampai kepada Hegel. Gagasannya tentang Imortalitas (keabadian) diambil semua filsuf tersebut. Akan tetapi masing - masing pengikut plato kebanyakan mengambil sebgaian besar pemikiran politiknya. Semisal, Locke, seorang Filsuf Inggris, yang kemudian menciptakan teori Trias Politika. Sementara, J.J Roseau Filsuf Perancis menemukan simpul, bentuk bentuk negara. Menurut Roseau negara yang paling cocok menggunakan sistem demokrasi adalah negara kecil. Kemudian negara yang setengah besar cocok menggunakan sistem Aristokrasi, kemudian negara besar, cocok memakai sistem kerajaan. John Locke besar di Inggris pada abad ke 17 M, dimana pergolakan masyarakat atas monopoli parlemen sedang berlangsung. Locke kemudian juga sering disebut sebut sebagai bapak Revolusi yang paling moderat. Demokratik Otoriter menjadi pegangan pemikiran politik Locke. Salah satu Teorinya yang paling terkenal adalah Kontrak Sosial. Kontrak sosial adalah kesepakatan antara rakyat dengan parlemen untuk membuat sebuah pembagian kekuasaan.
Revolusi Industri di Inggris yang berhasil merubah hampir seluruh tatanan sosial di Eropa. Perlu ditegaskan bahwa revolusi Industri di Inggris tidak hanya menyisakan pelbagai penemuan tentang mesin mesin produksi, melainkan juga kesengsaran dan kelaparan besar bagi masyarakat kelas pekerja. Banyak tenaga kerja (buruh) yang di rumahkan akibat tenaganya terganti dengan tenaga mesin. Selain Locke, pada tahun 1724 – 1804 muncul seorang pemikir dari Jerman. Imanuel Kant, mendapat pula sedikit pengaruh dari Plato. Gagasan utama Filsuf ini adalah Idealisme. Idealisme Jerman, pun demikian dalam banyak tulisannya Kant tidak melulu mengandalkan konsep Ideal melainkan juga material. Kant percaya bahwa setiap rasa yang di peroleh oleh indra adalah sensasi (interpretasi) mental (jiwa) manusia itu sendiri. Mental atau jiwa tersebut, hari ini sering di sebut sebagai Rasio. Kant ialah seorang pelopor Rasionalisme di Eropa. “Perangkat mental kita sendiri yang menata sensasi tersebut sesuai dengan ruang dan waktu.” Sebagai sebuah negara yang mengalami lebih dulu Reformasi−pencerahan di eropa secara umum, Jerman banyak menelurkan Filsuf yang kemudian menjadi pelopor rasionalisme, dan materialisme. Setelah Kant kita akan berangkat kepada Hegel.
Meskipun dalam banyak gagasan Hegel mengkultuskan diri sebagai pengikut plato, namun banyak pemikirannya yang juga amat terpengaruh dari Kant. Rasionalisme Hegel (1770-1831) adalah Filsuf sezaman dengan Kant, dan kemudian banyak memperhatikan gagasan gagasan Kant tentang Idealisme. Menurut Hegel Negara ideal adalah Prusia. Yaitu negara tempat dia tinggal, yang sekarang bernama Jerman. Negara ideal menurut Hegel adalah negara dimana rakyatnya makmur sejahtera, memiliki alat produksi masing – masing dan tidak tertekan oleh pajak, serta aturan aturan dari raja. Akal menurut Hegel ialah kepastian atas semua realitas yang ada. Oleh karena itu hegel sangat percaya dengan rasionalitas. Rasioanalitas Hegel kemudian dapat kita kenal sekarang lewat “ Dialektika” bagi Hegel setiap kebenaran harus melampaui tiga fase : Tesis, Antitesis, dan Sintesis. Metode dialektika ini sering di gunakan Hegel sebagai pisau analisa untuk menulis Sejarah. Bapak Sejarah Kritis. Hegel membawa evolusi bagi setiap Ilmu. Baik ilmu kemanusian ataupun ilmu kemasyarakatan. Selanjutnya Hegel di kenal sebagai Bapak Sejarah Kritis. Dia membagi sejarah kedalam tiga jenis pokok. Pertama adalah sejarah biasa, sejarah reflektif, kemudian adalah Sejarah Filsafati.
Sejarah dalam pelbagai bentuk ini sudah banyak dikembangkan oleh pelbagai Filsuf modern, sampai post modern hari ini. Pemikiran Hegel dapat di kategorikan sebagai pemikiran Filsuf yang paling rumit untuk di pahami. Kendati demikian, kuliah – kuliah Hegel soal Sejarah banyak di gandrungi di Jerman. Banyak pemikir – pemikir jerman yang kemudian mengadopsi dan membuat antitesis berkenaan dengan pemikirannya. Banyak buku sudah di buat untuk membedah pemikiran Hegel. Diantaranya, The Jerman Ideologi, yang di tulis oleh muridnya sendiri. Karl H. Marx adalah seorang murid yang paling rajin mengikuti perkuliahan Hegel, dia menyelami hampir seluruh pemikiran Hegel dan kemudian mensitesakan dengan pemikiran, realitas yang di dapat dari riset – risetnya soal keadaan sosial masyarakat Eropa di Inggris pada khususnya. Kapitalisme Marx menulis dalam The Jerman Ideology bahwa dialektika yang terjadi hingga berujung kebenaran adalah lewat basis realitas ekonomi yang terjadi dalam masyarakat. Berbeda dari Hegel yang mengkultuskan semuanya lewat Ide dan akan berakhirnya Sejarah. Marx menegaskan bahwa dialektika antara Materi dan Sejarah masyarakat tidak akan pernah berhenti dan akan terus berjalan selagi masyarakat itu ada.
Over produksi yang terjadi di tiap – tiap pabrik besar di Inggris menimbulkan sebuah kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin. Banyaknya tenaga kerja yang di rumahkan menimbulkan sebuah kelompok masyarakat tidak berdaya yang tidak memiliki faktor produksi. Sementara itu si Empunya faktor produksi terus menjalankan produksinya yang kian melimpah, dan memaksa golongan yang tidak mempunyai alat produksi tidak memiliki pilihan lain selain bekerja di pabrik – pabrik mereka. Dehumanisasi. Ditemukannya mesin uap oleh James Watt menggantikan tenaga manusia dengan mesin. Untuk efisiensi pemilik pabrik tentu memilih menggunakan mesin, dan kemudian merumahkan sekian banyak buruhnya. Keadaan buruh yang sudah di ujung tanduk semakin di perparah oleh kondisi mereka yang kehilangan pekerjaan. Si Kaya menganggap buruh (tenaga kerja) sebagai alat produksi untuk mendapatkan keuntungan. Tanpa kembali kenilai para pekerja sebagai manusia, yang memiliki keluarga dan memiliki kebutuhan dasar. Penghisapan dan penghancuran nilai kemanusian para pekerja yang terus menerus selama dua abad kemudian di sebut Karl H. Marx (abad ke-19) sebagai Kapitalisme. Riset mendalam Marx terhadap para buruh yang bekerja di pabrik temannya (Engels) dijewantahkan dalam tiga jilid masterpiece Das Capital I, II, III.
 Menurut Marx, tidak ada jalan untuk menghentikan kapitalisme kecuali dengan perlawanan kelas buruh, yang bertujuan merebut alat produksi dari pemilik pabrik. Atau secara evolutif kapitalisme akan hancur dengan sendirinya karena persaingan setiap pabrik, dan tidak adanya pasar akibat terlalu banyak barang hasil produksi. Pun demikian bangsa Eropa kenyataannya sampai hari ini masih lebih kaya secara ekonomi− kepemilikan faktor produksi dibandingkan negara berkembang, khususnya Indonesia. Indonesia yang berpenduduk 240 juta jiwa dijadikan ladang empuk bersarangnya kapitalisme. Pasar. Dapat kita lihat dalam kehidupan sehari hari betapa konsumtifnya masyarakat Indonesia. Eksistensi manusia yang sejak pada masa Rene Descartes disebut “Cogito Ergosum (aku berpikir, karena aku ada)” dengan cepat berubah menjadi “Kalo discount harus borong.” Pasalnya, kapitalisme yang sudah memperbaiki diri menjadi neo-liberalisme terlanjur masuk terlalu dalam di bumi yang kita pijak ini. Bahkan dalam ranah pendidikan.
Tidak usah jauh – jauh mengambil contoh Sekolah Berstandard Internasional, atau gosip sekolah gratis sampai tingkat SMP. Pernahkah kampus kita (UNJ) melakukan riset tentang lulusannya? Berapa persentase dari mereka yang telah lulus dan memutuskan untuk menjadi pengabdi dalam dunia pendidikan−menjadi ahli pendidikan, guru, dosen. Kemudian adakah jurusan di Universitas kita yang boros, ada jurusan dan lulusannya tetapi tidak terpakai keterampilan dan ijazahnya di masyarakat? Coba kita tanyakan kepada diri kita masing – masing apa dan bagaimanakah seharusnya Indonesia, melihat catatan panjang sejarah kemakmuran negeri ini dalam Nusantara. Selanjutnya kita kembali kepada Jostein Gaarder. Akhir dari novel ini mencengangkan. Ternyata Sophie adalah novel kado ulang tahun dari ayah seorang gadis bernama Hilde Mooler Knag. Sebagai catatan berfilsafat adalah berpikir menuju kebijaksanaan. Namun, ada baiknya dalam kehidupan sehari hari tidak terjebak dalam ruang pikir dan wacana. mengutip Vladimir Ilich Lenin, Revolusi adalah Praktek.