Kamis, 05 September 2013

Berharap Pada Pendidikan



Ketika kita berbicara tentang pedidikan adalah sebuah aspek kehidupan yang tak terlepaskan dari faktor-faktor penunjang alat untuk mencapai sebuah tujuan. Pedidikan sebagaimana upaya peningkatan kualitas yang  tidak akan pernah selesai. Upaya membantu seseorang untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemausiaan. Potensi kemanusiaan merupakn benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji tunas kelapa muda bagaimanapun wujudnya jka ditanam dengan baik. Jika dirawat dengan baik akan menghailkan buah kelapa yang berkualitas.  Pada hakikatnya, sifat manusia menjadi kajian filsafat atropologi. Hal ini menjadi suatu keharusan oleh karena pendidikan bukanlah sekedar soal praktek  melainkan praktek yang berlandasan dan berutujuan. Landsan dan tujuan pendidikan itu sendiri sifatnya filosofis normative, sifat filosofis normative karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sitematis dan universal tentang cirri hakiki manusia. Bersifat normative karena pendidikan itu sendiri mempuyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut yng bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan. Apa yang terjadi jika semua manusia di bumi manusia ini, khususnya bumi Indonesia tanah air yang kita dambakan, tanah air yang kita junjung tinggi sebagagai harga diri bangsa, martabat bangsa. Ketika manusia-manusia di Indonesia ini tidak diberi kesempatan untuk merasakan pendidikan sebagai mana mestinya, mungkin hanya segelintir orang yang merasakan pedidikan, dan segelintir orang itu hanayalah yang mampu, yang mampu dalam segi materil. Bagaimana kalau seseorang yang tidak mampu? Tak mendapat kesempatan jua pada pendidikan. Sesungguhnya menurut saya hal ini tiak merata.
 Kita pasti akan menjadi bangsa yang terbelakang. Bagaimana mungkin jika banga yang besar ini, bangsa yang tidak mudah merebut dengan kemerdekaanya, bangsa yang diwarisi oleh para pejuang dan perintih revolusi melawan penjajah ini  diteruskan kepada pewaris yang tak merasakan pendidikan sebagai mana mestinya. Maka dari itu kita harus berusaha untuk merasakan pendidikan,  pendidikan yang semestinya dirasakan menjadi hakikat manusia, perjuangkan lah, layak kan lah dirimu untuk mendapatkan pendidikan. Setinggi langit dan setinggi cita-ita mu untuk memajukan bangsa ini. Cukuplah , cukup kita merasakan kepedihan dari penjajah laknat. Penjajah yang tidak sama sekali patut kita sebut manusia.
Penjajah yang menghambat kemajuan negeri kita, dan penjajah yang mengambil kekayaan alam kita (rempah-rempah) untuk kepentingan negaranya.  menjajah bangsa kita dengan kjam, dengan memandang bangsa kita sebagai bangsa pembodohan yang berisi orang-orang yang hendaknya mudah untuk diperbudak. tidaklah kita patut untuk meerima kenyataan tersebut. 

Maka dari itu sahaya mengajak parapembaca sebagaimana mestinya hakikat manusia mengenyam pendidikan yang seharusnya. Disebut sifat hakikat manusia karena sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia, tidak terdapat oleh hewan. Pemahaman yang diperoleh seorang yang berpendidikan adalah dapat menjadi acuan baginya dalam bersifat, menyusun strategi, metode, dan tekhnik. Semua aspek yang diajarkan di pendidikan itu sendiri haruslah di manfatkan baik oleh kita, minimal berfikir untuk kemajuan keluarga. Kemudian jikalau anda sudah dapat menguasai materi-materi yang diajarkan pendidikan hendaklah anda berfikir (mencetuskan ide-ide) untuk kemajuan bangsa. Kita lah sebagai generasi muda. Generasi penerus bangsa, generasi yang akan menjadi tulang punggung kehidupan berbangsa ini selanjutnya. Dari paradigma teori ekonomi pendidikan ini bisa dibagi menjadi tiga bagian , yaitu ilmu ekonomi deskriptif, analisisi, dan terapan. 


  • Dekriptif adalah menumpulkan fakta yang relevan mengenai pembahasan-pembahaan/topik-topik tertentu.
  • Analisis adalah diberikan penjelasan mengenai cara kerja sitem perekonomian dan dapat memberikan asumsi-asumsi yang penting mengenai pembahasan sistem tersebut.
  • Terapan bisa diartikan sebagai mencoba mengkaji analisis ekonomi , mencari apakah analisis-analisis teori ekonomi dapat didukung dengan statistic dan pembuktian dalam dunia nyata.


Ketika berbicara tentang pendidikan ibarat kata seperti teori ekonomi. Tanpa kita bisa mendapatkan teori-teori tersebut, sulitkah kita untuk menguji atau menerapkan dalam kehidupan. Tapi pada kenyataan sekarang, masih banyak manusia-manusia Indonesia yang tidak mendapatkan pendidikan. Kita tentu melihat anak –anak kecil pagi hari diajalan sedang mencari nafkah untuk makan sehari-hari. Untuk membantu orang tua yang kesusahan dalam mecari nafkah. Akankah mirisnya dada ini ketika kita dilihatkan pada kenyataan yang pahit kawan. Akan kan mirisnya pikiran ini tertuju pada anak tersebut. Sia-sia saja program pemerintah yang mencanangkan pendidikan gratis 12 tahun? Hanya sebagai wacana pembahasan untuk memajukan bangsa, hanyalah sebagai program saja. Palsu kawan, dibuatnya hanya untuk sebagai suatu kerjaan yang tak usai. 

Tapi pada kenyataanya tidak merata program tersebut. Banyak yang tidak bersekolah, tidak mendapatkan pendidikan semestiya. Mestinya setiap orang sadar betul terutama kepada yang sudah merasakan bangku pendidikan, hendaklah kalian memanfaatkan kesempatan tersebut. Berfikir dan bertindak untuk kepentingan negeri ini bung.  Kalian harus pintar. Harus menjadi pendiri dan penerus bangsa yang jujur,  sepatutnya bekerja maupun belajar dengan jujur. Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak pikiran maupun perbuataan.  Menggugat dan mengubah sistem pembodohan rakyat oleh pemerintah. Semerawut dalam mengerjakan masalah yang tak kunjung usai di negeri kita ini, terutama dalam hal pendidikan. Bangsa ini harus benar pada jalurnya.  Membawanya kepada bangsa yang maju. Menunjukan kepada dunia internasional bahwa bangsa kita mampu, bangsa Indonesia hebat, bangsa yang maju. Sejahtera untuk rakyatnya, merata perkembangan ekonominya maupun pendidikannya. Mewujudkan cinta tanah air bangsa.  Tidak lagi bangsa yang berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar