Minggu, 10 November 2013

Perang Dingin, Kup dan Pembantaian Rakyat



“Sejarah bukan sekedar ruang dan waktu. Tapi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan” – Che Guevarra
Judul Buku : Akar dan Dalang (pembantaian manusia tak berdosa dan penggulingan Soekarno
Penulis : Suar Suroso
Tahun Terbit : September, 2013
Penerbit : Ultimus
Tebal : xxxvi + 264 halaman.

Pagi hari di beberapa kota besar di Indonesia suasana tidak seperti biasanya ayang begitu damai dan tenteram diusik oleh munculnya tulisan-tulisan berwarna merah darah : GANYANGPartai Komunis Indonesia (PKI), SATE AIDIT, GERWANI LONTE PKI banyak tercoret di tembok-tembok pagar tepi jalan, beton penyangga jembatan kereta-api, gardu-gardu listrik dan ditempat-tempat strategis lainnya. Siang hari datang beberapa kelompok massa berjumlah ratusan orang semua mengenakan penutup wajah dengan membawa beragam senjata tajam: bambu runcing, celurit, pedang, tombak. Berbaris di jalan-jalan kota dengan meneriakkan yel-yel yang membakar emosi. Mencari dan memburu orang-orang yang diduga anggota PKI. Sempat terjadi perlawanan dibeberapa tempat. Banyak jatuh korban pada saat itu. Insiden ini berlangsung sampai sore hari. Kejadian tersebut merupakan ekses dari gerakan 30 September (G 30S) 1965 di Jakarta. Enam jendral dibunuh, dan PKI tertuduh yang melakukannya. Beberapa kota yang merupakan basis pendukung PKI mengalami suasana penuh ketakutan dan mencekam. Paling tidak situasi ini berlangsung sampai tiga tahun ke depan.

Banyak pertanyaan-pertanyaan muncul. Ada apa dengan Indonesia, kenapa G 30S dapat terjadi, siapa sebenarnya dalang G30S? Dalam buku ini, penulis menjelaskan akar penyebab pemusnahan orang-orang PKI. Diawali sejak selesai perang dunia kedua, dimana dunia terbagi dalam dua kubu; Kapitalis (Amerika) dan Komunis (Uni Soviet). Ini yang disebut penulis sebagai akar permasalahannya. Indonesia sebagai negara pertama yang merdeka setelah perang berkecamuk terjebak dalam situasi yang dinamakan perang dingin. Soekarno, sebagai Presiden pertama tentu saja sudah sangat muak dengan kolonialisme atau yang disebut penulis sebagai kapitalisme kuno. Indonesia yang terkenal sejak zaman colonial akan hasil buminya membuat Amerika tergiur untuk memilikinya. Untuk itu selepas perang dunia, Amerika ingin menguasai politik,ekonomi maupun militer melalui intelijen-intelijennya.

Usaha-usaha pemberontakan terhadap Soekarno yang didomplengi Amerika selalu gagal. Hal ini bukan tanpa sebab, karena Soekarno sejak 1926 telah menuliskan pemikirannya yang anti kapitalisme dan imperialisme. Terlebih di Indonesia ada partai yang jelas-jelas musuh kaum Kaapitalis yakni PKI. PKI yang sangat erat dengan Soekarno yag menentang kolonialisme. Apalagi, PKI merupakan partai komunis terbesar ketiga dunia. Dan, akan membuat gentar siapapun yang berani melawan Soekarno-PKI. Namun, Amerika tak kehilangan akal. Mereka banyak mendekati akademisi untuk melanjutkan sekolah secara cuma-cuma di Universitas Barkeley. Tak cukup sampai disitu, Amerika melalui duta besarnya dan CIA mendekati kalangan militer untuk menumpas PKI. Sampai pada 1965 clash itu terjadi PKI dan Soekarno dianggap pihak yang mesti bertanggung jawab atas kejadian itu. Soekarno pun lengser sebagai presiden. Tanpa tedeng aling-aling Militer dengan sigap menumpas kader, simpatisan bahkan yang tertuduh PKI. Inilah yang disebut sebagai dalang oleh penulis. Sebanyak tiga juta rakyat terbunuh sia-sia dan tanpa peradilan. Banyak mayat yang dibuang ke sungai-sungai bahkan di sungai Brantas banyak ikan ketika hendak dimasak banyak daging manusia di dalamnya (hlm 52).

1965 Merupakan sejarah kelam bagi Indonesia. Karena, setelah pergantian rezim pemerintahan. Indonesia tak lagi menjadi pesaing negara-negara besar. Kini, Indonesia hanya menjadi negara pengekor negara-negara besar. Tak hanya itu, 1965 merupakan kelam dalam sejarah umat manusia. Pembantaian manusia membabi-buta tanpa sebab oleh bangsa sendiri menjadi penyebabnya. Bagi mereka yang tak terbunuh harus rela hidup penuh diskriminasi, dibuang ke Pulau Buru dan menjadi eksil di luar negeri. Buku ini menarik untuk dibaca karena banyak memakai dokumen-dokumen yang belum digunakan dalam pembahasan G 30S. terlebih, penulis membuat tulisan bantahan terkait penulisan sejarah G 30S yang ditulis oleh Nugroho Notosutanto dan Mantan Pangkopkamtib, Soedomo. Akan tetapi, buku ini lebih banyak memfokuskan pada kegiatan politik yang terjadi di dunia maupun Indonesia dibanding pembantaian yang dilakukan oleh militer. Yang merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat. Hingga kini, pemerintah masih enggan meminta maaf secara resmi kepada korban G 30S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar