Jumat, 12 Juli 2013

Dosa Mafia Berkeley



Buku : MAFIA BERKELEY DAN PEMBUNUHAN MASSAL DI INDONESIA
Penulis : David Ransom
Penerbit : Koalisi Anti Utang, 2006

Semua dimulai pada saat kemerdekaan Indonesia, dimana terjadi gerakan - gerakan revolusioner di Asia, dari India di Barat sampai Korea di Timur dan Cina di Utara sampai Filipina di Selatan. Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun sebelumnya secara gigih bertempur melawan Belanda, tetapi kemerdekaannya (dalam hal ini pengakuan kedaulatan ) tidak diperoleh melalui pertempuran besar seluruh rakyat, melainkan melalui kesepakatan para pemimpinnya. Saat itu pemimpin yang dekat dengan barat “mengatur kemerdekaan Indonesia” di gedung – gedung mewah di Washington dan New York. Pada tahun 1949, orang – orang amerika membujuk Belanda agar mengambil keputusan (mengakui kedaulatan Indonesia) sebelum revolusi di Indonesia berlangsung leih lama dan rakyat indonesia memahami dan mencintai nasionalisme.
Pada tahun itu pula kemerdekaan politik Indonesia diakui, dengan rancangan politiknya disusun dengan bantuan diplomat Amerika, dengan tetap menerima kehadiran Belanda secara ekonomi, tetapi pintu lebih terbuka lebar untuk Amerika Serikat, baik dibidang ekonomi dan kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dari kesepakatan dari Indonesia yang melibatkan Soedjatmoko dan Soemitro yang merupakan anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang lebih condong ke pihak Barat jika dibandingkan dengan partai – partai lain. Kesepakatannya ialah bagi pihak Amerika yang mejalankan strategi Marshall Plan di Eropa akan sangat bergantung pada ketersediaannya sumber daya di Asia, dan ia menawarkan kerja sama yang menguntungkan Amerika.
Keterlibatan Utang luar negeri Indonesia pertama kali pasca kemerdekaan ialah dengan menyetujui hasil Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Indonesia, yang baru saja merdeka dipaksa menanggung utang hindia belanda selama perang dunia berlangsung. Akan tetapi, utang luar negeri mulai terhenti melalui istilah terkenal“Go to hell with your Aid” yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Dapat diterima logika jika akhirnya isu keterlibatan asing dalam proses kejatuhan Soekarno santar dalam skenario Gerakan 30 September 1965. Peranan dua “Begawan ekonomi” Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo dan Sudjatmoko, pasca kemerdekaan Indonesia. Indonesia yang diakui Belanda secara politik dalam meletakkan konsep dan kerangka pikir untuk pembangunan Bangsa Indonesia.
Keterlibatan Universitas terkenal di Negara-negara barat (MIT, Cornell, Berkeley, dan Harvard) untuk mencetak ahli-ahli yang namanya juga dipromosikan oleh kalangan barat cukup strategis untuk mencekoki paham “liberalis” kepada kepala calon-calon pemimpin Indonesia. Bahkan menurut penulis, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Soemitro Djojohadikusumo pun disulap untuk turut mencekoki paham-paham ekonomi barat. Tak hanya sampai pada Soemitro, mereka juga membiayai kuliah murid Soemitro seperti Emil Salim ke Universitas Bekeley, California. Namun, semasa pemerintahan Soekarno, peran aristocrat ini banyak mendapat tentangan. Soekarno berpendapat kedua aristocrat tersebut pro neokolianlisme dan Imperialisme. Yang tentu saja akan membahayakan bagi kaum Marhaen. Hingga akhirnya, angin pun berubah. Kudeta yang dilakukan oleh Soeharto ternyata sukses membuat Begawan ekonomi masuk dalam lingkar kekuasaan. Prestasi pun, dicatatkan oleh mereka dengan menekan angka inflasi Indonesia yang mencapai 600% pada 1966. Meskipun harus “menjual” SDA Indonesia dengan melegalkan penanaman modal asing.
Soeharto sangat yakin akan kemampuan ekonom tersebut, hingga Soeharto berkenan membuat SESKOAD (Sekolah untuk para perwira angkatan darat). SESKOAD sendiri dipandang sebagai salah satu tempat bagi tangan-tangan Berkeley. Mengirimkan sejumlah perwira menengah ke luar negeri untuk berlatih. Ketika kembali, perwira-perwira ini yang akan menjadi pemimpin-pemimpin untuk menghadapi ideologi sosialis / komunis yang tidak menguntungkan barat. Pada bagian III “Harvard, semuanya dibawa pulang”, kita dapat menemukan mengapa kesejahteraan bangsa Indonesia begitu sulit tercapai, mengapa semua terlihat benar dari sisi ilmu ekonomi, mengapa saat ini tempat-tempat “basah” dan menghasilkan uang banyak dikuasai Negara asing?

Buku yang diterbitkan KAU ini bisa saja sebuah buku yang tidak ditulis sebagaimana kaidah ilmiah, tidak memiliki data valid dan banyak merupakan isu-isu rekayasa. Tetapi membaca buku ini dan melihat keadaan bangsa Indonesia, sungguh memiliki korelasi kuat. Bagaimana kebijakan ekonomi liberal diterapkan, seperti privatisasi BUMN, eksploitasi Freeport di papua. Yang tentu saja mengkhianati konstitusi pasal 33 dan membunuh hajat hidup orang banyak. Itulah sebabnya buku ini dinamakan Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal. Pemilu lima tahun sekali begitu murah jika harus disogok dengan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat, JAMKESMAS, PNPM, dan sejumlah program lain yang sejatinya hanya mengeluarkan receh-receh jika dibandingkan dengan bongkahan-bongkahan ‘emas’ yang dibawa ke luar negeri oleh pihak Asing. Buku sebanyak 80 halaman ini menguak misteri dibalik penggusuran Soekarno dari tampuk kepemimpinan di Indonesia yang terjadi pada tahun 1965. Dalam peristiwa ini disebutkan bahwa telah terjadi sebuah permainan intrik intelektuil internasional yang melibatkan banyak pihak seperti CIA, Ford Foundation, Rockefelller Foundation, Universitas – universitas terkemuka AS, dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar