Selasa, 01 Mei 2012

Resensi : Massa Actie (Tan Malaka)



Buku : Massa actie
Tahun terbit : 1926
Penulis : Tan Malaka
                Akhir – akhir ini public disuguhkan oleh  demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat. Dimulai oleh buruh di kawasan bekasi yang melakukan aksi pada awal tahun. 3 bulan kemudian, isu kenaikan BBM pun menyulut masyarakat untuk melakukan demonstrasi sebagai sikap menolak kebijakan pemerintah. Hingga yang terakhir adalah perayaan hari buruh sedunia atau biasa disebut Mayday. Dimana buruh merayakan “kemenangannya”dengan turun ke jalan-jalan di ibu kota menuntut hak-haknya sebagai pekerja.
Demonstrasi seolah menjadi sikap masyarakat untuk menolak kebijakan yang dianggap merugikannya. Di Indonesia sendiri buku tentang demonstasi telah lama ditulis oleh seorang founding father yaitu Tan Malaka. Tan malaka yang dikenal sebagai  bapak republic menuliskan sebuah risalah perjuangan yang akan tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya. Massa actie ditulis oleh tan malaka ditahun 1926 telah banyak memberikan inspirai bagi banyak orang. Bahkan, seorang Soekarno pun tersadarkan akan kemerdekaan. Indonesia Menggugat itulah  pidato soekarno setelah membaca buku massa actie.
Tan malaka, menulis massa actie karena kekesalannya terhadap pemberentokan yang dilakukan ISDV tahun 1926. Pemberontakan itu dinilai melanggar etika, karena tidak meminta izin kepadanya. Padahal saat itu Tan Malaka sebagai ketua komintern asia tenggara. Menurut Tan malaka, pemberontakan itu hanya berdasarkan kepentingan segelintir pihak bukan mewakili  seluruh rakyat Indonesia. Buku ini menitik beratkan pada pengorganisasian peserta demonstrasi (massa actie). Menurut Tan Malaka, perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik. Baginya, putch itu adalah satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan itu bisanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memedulikan perasaan dan kesanggupan massa.
Massa yang terdidik tidak akan meninggalkan massa aksi yang lain bila tertangkap aparat. Tambahnya lagi massa aksi yang terdidik bukanlah massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi. Selain membahas massa actie, tan malaka juga memberikan gambaran betapa bangsa Indonesia sangat sengsara oleh adanya kolonialisme Belanda. Dibagian akhir, Tan malaka juga memberikan amanat tentang pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia. Akuilah dengan yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat. Lebih lanjut ia menambahkan sikap kita sebagai murid,”Belumlah kamu bisa dianggp seorang murid atau bahkan seorang manusia apabila kamu melupakan gurumu.”
*masyarakat yang dimaksud termasuk mahasiswa maupun buruh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar